Minggu, 30 Januari 2022

Good-Bye.

1/30/2022 06:03:00 PM 0 Comments

The Script said: "Where's the good in good bye?"


Mengutip lirik lagu Danny O'Donoghue dan kawan-kawan di circa 2014, pertanyaan yang sama juga ngga jarang terus-terusan bermunculan di benak paling dalam.


Where's the good in good-bye?


cr: pinterest

Secara terminologi, sebenarnya kan 'good-bye' ini sama-sama masuk ke kata-kata formalitas. Sama basa-basinya seperti good morning, good afternoon, good evening, have a good day. Selipan good di awal sapa, seolah menyiratkan untuk mengharapkan sesuatu yang 'baik-good' terjadi pada orang yang disapa. Sama seperti arti dari kata Assalamualaikum. 


Some kind of, well, I wish you have a good morning! Wishing you have a good afternoon! Et cetera.


So, does 'good-bye' means wishing you, and I, have a good parting ways?


 

Rabu, 18 Agustus 2021

Blessings

8/18/2021 01:57:00 PM 0 Comments

Satu post yang lalu, masih berkisar di tahun 2020 dan satu post berikutnya (this one, ofc!) tiba-tiba aku sudah meloncat ke tahun berikutnya.


Ke mana tuh resolusi tahun 2020 yang aku tulis baik-baik di jurnalku tentang akan rajin menulis blog lagi? LOL.


Tapi nggak apa-apa. Men-checklist sebuah resolusi, memenuhi satu keinginan dalam bucket list, mengerjakan sebuah proyek yang sudah lama direncanakan---apapun itu, semuanya tentu saja butuh proses. Butuh berubah meskipun sedikit demi sedikit, butuh bergerak meskipun perlahan-lahan.


It's okay, it's okay!

*calming myself down* WKWK nah but I think every great things always started with those tiny little things, as long as you're consistently on the move.


Ada jutaan mimpi, harapan dan cita-cita yang selaluuuu ada dalam benak kita sejak kita lahir ke dunia. Bisa berjalan, bisa naik sepeda roda dua, bisa mengerjakan soal matematika dalam waktu sekian menit, bisa menggambar hal-hal yang disukai, bisa menghabiskan belasan buku bacaan dalam waktu sebulan. Dari hal-hal yang sederhana, hingga hal-hal sebesar bercita-cita lanjut sekolah ke luar negeri, punya pengalaman kerja di perusahaan multinasional, ingin mengabdikan diri di institusi pemerintahan, atau bahkan punya rumah di usia sekian. Apa ada yang salah? Nggak ada, dong. Semua orang bebas bercita-cita, bebas punya keinginan dan target apapun di titik waktu kapanpun. Yang terpenting di atas segalanya cuman dua: tetap konsisten, tapi tidak boleh jumawa.


Kenapa tidak boleh jumawa? Oke, aku balik ganti bertanya. Kenapa harus jumawa?


Memangnya, semua usaha kita itu 100% asalnya dari kita sendiri? Memangnya sudah lupa, kalau selalu ada Allah yang kasih jalan untuk semua usaha kita, bahkan dalam cara yang paling sederhana?


Selalu adaaa saja hal-hal kecil yang pada hakikatnya mengingatkan kita pada Yang Di Atas, tetapi selalu luput dari cara pandang kita terhadap dunia. Misal, kita ketemu teman lama. Teman lama cerita dia resign, lalu dia cerita dia bisa mengajukan orang lain untuk menggantikan posisinya. Lalu kita berhasil dapat pekerjaan itu, dan seketika kita merasa sombong, merasa inilah hasil dari perjuangan kita sendiri setelah sekian lama mencari pekerjaan. Tapi luput dari fakta bahwa pertemuan kita dan teman lama bukanlah sebuah kebetulan. Ada campur tangan Allah di situ, memberikan jalan dan cara supaya kita menemukan rezeki kita. Lupa?


Pertemuan dengan teman lama hanyalah satu dari sekian cara yang Allah berikan dalam bentuk yang sederhana. Kadangkala, sebuah diskusi dengan sahabat dekat bisa memberikan ide yang paling cemerlang. Bincang-bincang sekian menit dengan orang tua bisa memberikan perasaan lega setelah sekian lama memendam kerumitan di sudut kepala. Semuanya rezeki, yang tidak selalu berwujud materi.


Sesederhana punya sahabat dan teman dekat yang selalu mendukung, orang tua yang selalu bertanya bagaimana kabarmu, atau menghabiskan satu hari liburmu hanya dengan beristirahat dan melakukan hobimu setelah sibuk berkutat dengan pekerjaanmu seminggu penuh, semuanya adalah rezeki. 


"Maka, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"

- Al Qur'an surah Ar-Rahman ayat 13.


Alhamdulillah.

Maka jangan lupa bersyukur, bahkan untuk hal sekecil apapun, ya! :)

Sabtu, 14 Maret 2020

Congraduation, my Purply Pal!

3/14/2020 08:36:00 PM 0 Comments
Well, hello, I am back!

Post kali ini adalah salah satu mandatory post—yang agaknya kayak lebih make-up post for late congratulations(?)—heeheeheeee :3

Anywaaaymain topic for this post is dedicated to one of my cherries-on-top college buddies since day one—

Hello there, Tasya Putri Utami, S. Gz! J

Selamat sudah S.Gz, Tasya!♥️

Rabu kemarin adalah tipikal hari Rabu yang sama seperti hari Rabu di minggu-minggu sebelumnya, tapi aku yakin hari Rabu kemarin adalah satu dari sekian hari yang nggak akan pernah kamu lupain seumur hidup—yaiyalah!

It was your graduation day, of course!
           
Too bad I couldn’t be there on your very special day L
But here I am—you know my pray would always come along for you to have a bright day and brighter tomorrow, right?

Sebagai teman pertama, literally teman pertamaku ketika masuk IPB ((di luar KEMALA dan teman-teman satu SMA-ku)), let me say how proud I am for your achievement—getting your bachelor degree, finally!

Selamat atas gelar barumu, Tasya Putri Utami sahabatku yang sekarang udah punya embel-embel baru di belakang nama, Sarjana Gizi! Semoga semua ilmu selama empat tahun di IPB dan empat bulan lainnya di Chulalongkorn selalu bisa diamalkan dan menjadi berkah untuk keluarga dan orang-orang lain. Semoga semua life skill selama bertahan hidup di Bogor seorang diri juga selalu jadi pengingat kalau hidup sendiri—ternyata memang butuh buat benar-benar mengandalkan diri sendiri banget!:”) Iya banget nggak siiiih wkwkwk. Tapi biarpun sendiri, kan kamu punya kita berempat :p. Terus teruuus, semoga semua kegiatan-kegiatan, acara-acara, proyek-proyek dan semua posisi di divisi apapun itu selama ikut acara kepanitiaan juga bisa menjadi pengalaman-pengalaman berharga yang nggak akan pernah bisa tergantikan oleh apapun juga. All in all—semoga semua cerita dari kota hujan selama empat tahun ini akan selalu jadi segmen yang nggak akan pernah terlupakan selama hidupmu, ya!:”)

Dan untuk semua rencana-rencana besar yang udah dipikirkan sampai usia dekade ketiga nanti—entah itu kuliah lagi, jadi wanita karir yang super sibuk, jadi pengusaha yang punya restoran sehat dan bergizi, jadi dosen muda dan peneliti yang cemerlang, jadi family mom yang tetep aktif dan ceria, atau apapun itu—semoga semua mimpi besar itu tercapai, ya! And I will always be standing next to you, proudly said to universe that you are my best friend!❤️
           
Buat sekedar mengingat momen-momen gila selama empat tahun berteman sama u dan gadis-gadis nakal lainnya tapi selaluuuuuu ngangenin setiap kali buka galeri hp,  soooo here we go!

MASIH BOCAAAAH hahahahahhaha beloman kepala 2 semuanya:)))

ada yang abis berantem terus baikan di hari ini guys :) WKWK

moi birthdaiiii yang surprise-nya kenapa ya di depan kosan maneh WKWK

apa nih ceritanya, model-post-prolin-chaos(?)

ini pas surprise ultah Rifa, kita semua pake baju bobo dibalut jaket atau sweater sementara maneh pake baju pergi karena baru balik abis jalan sama pacar----eh sekarang mantan deng WKWKWKWK :p

sesungguhnya ini pas ngerayain ultah maneh kita makan di pizza kayu bakar(?) bukansih WKWK tapi surprise-nya berhasyiiiil :)

lafffff❤️

detik-detik mata maneh kecolok bunga gara-gara urang kelincahan WKWK


Anywaaaaay, wherever you are, whatever you do, you know that I’ll always be one call away, right? J

Sampai jumpa lagi—benar-benar sampai jumpa lagi, di waktu dan kesempatan mendatang yang akan kita rencanakan kapan-kapan! Terima kasih sudah selalu ada dan menemaniku selama masa-masa kuliah yang berat ini bareng-bareng Rifa, Afi dan Salma!❤️

P.S: I do mean it when I say I’d congratulate you in other platform because I don’t use Instagram anymore nowadays—then here it is! I bet you never had a blog post which was dedicated for you only—except this one, am I right? :p WKWKWK.


Love you, as much as SpongeBob loves Patrick!❤️
XOXO
Saff

Kamis, 26 Desember 2019

Closure

12/26/2019 10:36:00 PM 0 Comments

I am literally taking a deep breath, now.
Wkwk.

Jadi,
sampailah kita di sini, pada akhirnya.
Penghujung 2019.
Kita cuman butuh satu tangan aja buat menghitung hari sebelum 2020 dimulai.



Days of 2019 is really going to be another memories.
Just like another year before, and the rest of it.
We’re on the verge of 2020, yet I am currently craving on the edge of the lowest point of my life.

Ada banyak hal menyenangkan yang terjadi selama tahun ini.
Ada banyaaaaak banget hal yang bikin aku benar-benar bersyukur, tapi ada juga banyak hal yang bikin perasaan kecewa ngga mudah buat menghilang dalam hitungan hari.

Aku bisa melewati hari-hari terakhir di tahun 2018 yang rasanya berkali-kali lipat lebih berat daripada biasanya. Dikasih kesempatan buat internship di RSCM jelas adalah pengalaman yang luar biasa, tapi aku yang mungkin kurang siap, kurang pintar, kurang cerdas, kurang bisa mengontrol diri sendiri jadinya banyak nangis—meskipun emang pada dasarnya aku cengeng sih hehe. Ngga tau kenapa tapi rasanya capek hati juga karena banyak berekspektasi sama diri sendiri yang nyatanya nggak semampu itu, dan perasaan itu masih kebawa sampe awal-awal 2019. Dipenuhi dengan semua revisi laporan internship karena diburu-buru buat seminar di kampus, bolak-balik berdesakan di KRL ke Cikini akibat ngikutin jam kerja orang kantoran yang sama-sama berangkat dari Bogor. Belum lagi revisi laporan internship dari pembimbing di kampus yang juga harus cepet-cepet dikerjain karena jadwal seminar tiba-tiba udah ditentuin—dibarengi jiwa kompetitif aku yang ngga mau kalah dengan teman-teman sekelompokku yang rajin ngejer pembimbing rumah sakit biar cepet selesai segala urusan dengan per-internship-an ini wkwk. Untungnya pembimbing rumah sakitku baik semua—dan semua laporan aku bisa ditandatangani dengan cepat!

Baru juga selesai seminar hasil internship di kampus, langsung diburu-buru lagi buat cepat-cepat nyelesain proposal skripsi—well I even didn’t have enough time to have a goooood rest and think about my undergraduate thesis thoroughly! Dosen pembimbingku cukup strict soal waktu, dan beliau adalah orang yang sangat aku kagumi sejak mengikuti kelasnya di semester 2. Nggak mau ngecewain beliau, jelas dong. Jadi aku kembali menghabiskan malam demi malam dengan suntuk buat riset tentang topik—walaupun di awal aku udah menetapkan hati bakal mantap mengajukan topik tentang konsumsi minuman manis biarpun belum tahu siapa target responden nantinya.

Dan di sini aku benar-benar bersyukur nggak salah memilih pembimbing dan lebih bersyukur lagi karena pembimbingku menerima aku menjadi mahasiswa bimbingannya.

Aku punya target timelineku sendiri demi penyelesaian skripsi ini. Februari, topik harus diterima dan proposal skripsi harus udah kelar. Maret sampai April, aku harus udah turun lapang buat ambil data. Mei aku harus mulai mengolah data dan menyusun skripsi. Juni aku harus seminar, dan Juli aku harus sidang, supaya aku bisa wisuda di tahap pertama, bulan September.

And it really worked that way. Alhamdulillah. Really, I just can’t thank Allah enough. Semua berjalan sesuai timeline yang aku harapkan, tanpa kendala yang berarti. Well, kendala udah pasti ada, tapi aku bisa men­g­handle semua itu dengan baik. Dosen pembimbing yang benar-benar ‘membimbing’ bahkan sampai aku udah lulus, dan partner satu bimbinganku yang sangat responsif, gercep dan saling bisa mengandalkan satu sama lain. Really, I just can’t thank Allah enough :”) Dan aku percaya banget, semua ini jelas nggak lepas dari doa ibu dan ayah. Beyond blessed, really.

Wisuda di hari Rabu, tapi satu keluarga lengkap ada di sampingku. Ngga ada satupun yang alfa. Ayah dan kakakku cuti, demi hari besarku. Adikku yang kuliah bisa menyempatkan hadir, dan adikku yang paling kecil diizinkan buat ikut ujian susulan, berkat ibuku. Demi wisudaku, ya ampun. Aku ngga ngerti lagi, perasaan bahagia yang paling besar itu adalah ketika mereka datang buat wisudaku, bukan ketika tali toga dari kiri dipindah ke kanan oleh rektorku. Serius. Ngga ada yang bisa ngalahin perasaan bahagia itu ketika aku melihat semua orang yang paling aku sayang di dunia dan di akhirat ada di sekeliling aku. Buat aku, hari paling bahagia adalah hari ketika mereka ada di sana untuk melihat wisudaku. Ngga lebih.

Amma dan Isca dateng. Dan mereka menemani aku sampai malam. Ya ampun :”). Yang tadinya Isca ngga bisa dateng karena kerja (well, wisuda IPB hari Rabu sih L), tiba-tiba dapet panggilan buat presentasi di Jakarta daaaan acaranya selesai di siang hari, hari Rabu. Allah’s plan is the best, indeed :”). Afi, Rifa dan Salma dateng dan nemenin aku sampe sore. Tasya memang masih di Thailand, tapi mereka bertiga hadir pun udah cukup buat aku.

Sungguh, ga butuh pendamping wisuda atau apapun you name it asalkan ada mereka :”)

And another milestone in 2019;
I sent a congratulation for him.
Both for his birthday and his graduation day.

After all those hatred I had, after all those tears I shed,
and after all those struggles just to make me forget about,

eventually, those feeling just never fade away.

.....................
Ngga tahu sih itu blessings or not, hahaha.

Tahun ini juga, aku kehilangan banyak teman dekat.
They didn’t even send me any congratulation message, though.
Yah, ngga apa-apa sih. Ngga masalah, bukan berarti aku menuntut mereka untuk terus jadi teman di saat aku sendiri juga udah jarang ngontak mereka. A bit disappointed, though. Di sisi lain, aku jadi ngerti tentang hubungan pertemanan ini. Mungkin yang aku anggap teman udah ngga menganggap hal yang sama karena aku juga yang lack of communication. Yah—aku akuin, aku payah banget buat ngejaga pace komunikasi. Kadang ada aja waktu-waktu aku berhenti main media sosial, dan itu cukup cutting off hubunganku dengan teman-teman lama.

Atau teman dekat yang beneran aku anggap dekat, tapi mereka-nya yang ngga bisa kalo cuman jadi teman. I know I’d lost them once I said I had no intention to be more than just a friend. Ya bukan salah mereka juga kalo memutuskan untuk back off.

Atau orang yang aku pikir akan selalu stay. Hahaha.
Naif banget rasanya. Kalo dipikir-pikir dulu aku juga sempet nulis sesuatu tentang dia: are you gonna be the one who stays, or not?
Dulu percaya aja sih akan stay, tapi makin ke sini aku paham dia ngga akan stay. Ngga ada apa-apa di antara kita biarpun aku ngerti kok, kita punya sesuatu yang beda daripada dengan orang-orang lain. I knew it, and he gave me a gift for graduation, though. Wkwk. Seengganya masih inget, deh. Lagian dia punya peran besar dan penting juga selama empat tahun aku di Bogor—and bigger part when he was always there at those times I decide to stop myself from sinking further about that illogical first love case I’ve never had enough.

Tapi ngga apa-apa.
Aku baik-baik aja kok, sampai di ujung tahun 2019 ini.
Dan tambahan lagi—I am still jobless until now, but its fine.
☺️

Sungguh, ngga apa-apa.
Aku tahu selalu ada rencana baik dari Allah untuk hidupku ke depannya.
Aku selalu tahu, dan aku cuma butuh percaya dan tetap usaha.

Lima hari lagi,
Angka 2020 akan menghias setiap sisi hari.
Lalu 2019 benar-benar bakal pergi dan jadi memori,

dan aku percaya aku akan tetap baik-baik aja.



See you on 2020! :)

Selasa, 01 Oktober 2019

That Little 'F' Thing

10/01/2019 06:48:00 PM 0 Comments



Pernah nggak sih, kamu ngerasain lagi berada di pusat terbawahnya hidup kamu?
Di titik 0?
Di pijakan bumi paling rendah?
Di anak tangga paling bawah?
Di bagian paling kelamnya dunia?

Pernah?
Sama, kok.

Pernah nggak sih, kamu ngerasain selalu dapat pahitnya kehidupan?
Berulang kali dapat warna hitam  ketika yang lain dapat warna pelangi?
Nggak dapat kesempatan yang lebih baik di saat orang lain mendapatkan itu secara berturut-turut?
Dapat surel penolakan, atau kertas bertuliskan kata gagal di dalamnya?

Pernah?
Sama, kok.
Sama banget, persis keadaan aku sekarang ini.

So, well, yeah I do keep reminding myself—but I think I should remind you too, about this.

Bahwa semua orang punya rezekinya masing-masing.
Semua orang punya waktunya masing-masing.
Semua orang, punya momennya masing-masing.

You are not failing,
you are just not strong enough to break the boundaries of success.
Failure isn’t the end of your life, but it is one of checkpoints in your life.

Checkpoints, of course. You do have your own finish line, but that’s not the same line with other people.

Jadi, jangan menyerah, ya!.
Jangan pernah berpikir untuk menyerah; karena kamu nggak pernah tahu kesuksesan seperti apa yang akan kamu dapatkan di balik semua kegagalan yang kamu terima saat ini.

Keep going, keep giving it a try! Ambil semua kesempatan, dan nggak ada salahnya untuk terus mencoba. Tekuni hobi kamu. Asah terus kemampuan kamu. Perkaya diri sendiri dengan berbagai skill  dan ilmu. Ayo, tetap maju!

Aku menuliskan ini semua bukan karena aku sudah melewatinya; tapi karena aku juga, masih berada di titik 0. Titik awal. Titik balik dari kehidupan sekolahku.

Biarpun satu per satu teman mulai naik ke anak tangga berikutnya, biarpun kamu masih tetap berjalan di tempat, biarpun orang-orang di luar sana mulai berisik dan memberondong dengan berbagai pertanyaan tentang apa yang sudah kamu capai setelah empat tahun merantau—nggak usah pedulikan hal-hal itu.


credits: TED

Fokus dengan semua target ke depannya yang sudah kamu susun dengan baik, fokus dengan  kemampuan diri sendiri, dan tetap fokus mengejar langkah demi langkah untuk mencapai target. Satu demi satu, sedikit demi sedikit, tidak apa-apa. Dan jangan lupa—kamu selalu punya Allah. Kamu selalu punya kesempatan untuk lebih mendekatkan diri pada-Nya dan terus berdoa.

Salah satu dosenku pernah mengatakan, bahwa doa dan usaha itu seperti roda. Roda yang akan terus berputar dan membawamu menuju tempat tujuan.

Jadi, jangan menyerah, ya!
Biarpun saat ini kamu masih berulang kali tidak lolos tes,
Biarpun saat ini kamu masih gagal saat di-interview,
Biarpun saat ini kamu masih belum menemukan namamu di antara daftar orang-orang yang diterima,
Biarpun saat ini kamu masih tak kunjung mendapat panggilan interview,
Biarpun saat ini kamu masih juga belum menerima balasan dari email pengajuan internship,

tidak apa-apa, kok.
Kamu tidak gagal, kamu hanya baru saja melewati satu tahapan di kehidupanmu.

You’re just not there yet. Believe me.
You are almost there, hang on it!

Failure isn’t a big thing, its only a little ‘F’ thing that would make you smile someday, and make you feel blessed ‘cause you failed at it :)

Tetap bersyukur, tetap berjuang, tetap percaya,
dan jangan pernah menyerah.
Semangat selalu, hei kamu! :)





One day you’ll look back into this post when you’re already on your finish line and you would want to say thanks a lot to your old self for not giving up.

Cheers!
Saff☺️